Kecanduan bermain judi bisa dijelaskan secara sains

Kalian pasti jengkel kan jika salah satu dari keluarga terdekat kalian mengalami kecanduan bermain judi. Ternyata, kecanduan bermain judi bisa dijelaskan secara sains kenapa seseorang yang sudah terjebak di dunia perjudian akan sulit dihilangkan kebiasaan tersebut.

Seseorang kecanduan bermain judi
Penjudi mendapatkan banyak dari bermain judi
(Sumber gambar : http://www.documentarytube.com)

Tahun 2010, seorang peneliti di bidang saraf kognitif yang bernama Dr. Reza Habib melakukan percobaan kepada 22 orang. Dari 22 orang tersebut terdiri dari 11 orang mengaku sebagai penjudi patologis (berharsat kuat untuk berjudi). 11 pejudi patologis ini mengaku sering berbohong kepada keluarga mereka terhadap kebiasaan berjudi mereka, sering bolos bekerja untuk berjudi, dan merasa cemas jika tidak berjudi.

Sementara, 11 orang sisinya adalah nonpatologis di mana mereka ini berjudi untuk bergaul saja dan tidak menunjukkan kebiasaan buruk apa pun seperti yang dialami oleh para pejudi patologis.

Bagaimana proses pengujiannya terhadap 22 orang?

Nah, 22 orang tersebut diminta untuk berbaring di sebuah mesin fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging). Mesin fMRI ini akan mengetahui respon yang terjadi di sekitar saraf otak manusia. Sambil berbaring, 22 orang tersebut diperintahkan untuk mengamati alat mesin judi yang terkenal yaitu roda lucky 7 yang sedang berputar-putar.

Mesin untuk bermain judi
Mesin slot lucky 7 yang nyaris membentuk sejajar 777
(Sumber gambar : https://www.123rf.com)

Mesin lucky 7 sudah diprogram untuk memberikan 3 hasil yaitu : menang, kalah, dan “nyaris menang”. Nyaris menang bisa dijelaskan pada gambar di atas yang menunjukkan bahwa slot baris pertama dan kedua sudah membentuk 77 tapi pada slot ketiga itu hampir membentuk slot angka 7. Walapun pada akhirnya slot ketiga itu tidak akan memberikan slot angka 7.

22 orang tersebut tidak mendapatkan dan kehilangan uang sama sekali. Mereka hanya diminta mengamati layar mesin lucky 7 itu. Sementara mesin fMRI mencatat segala aktivitas saraf otak mereka.

Bagaimana hasil pengujian mesin fMRI terhadap aktivitas saraf otak 22 orang tersebut?

Dr. Reza Habib berkata bahwa para penjudi patologis ini lebih bergairah untuk meraih kemenangan. Saat simbol-simbol pada mesin lucky 7 itu memberikan hasil semua slot berjejer sama (misalnya 777). Area otak mereka yang berkaitan dengan emosi dan ganglia basal (saraf pembentuk sebuah kebiasaan) jauh lebih aktif daripada penjudi nonpatologis. Padahal, penjudi itu sebetulnya tidak mendapatkan uang sama sekali.

Lebih menarik lagi saat kondisi nyaris akan menang ketika mesin lucky 7 hampir membentuk ketiga slotnya sejajar. Bagi penjudi patologis, nyaris menang terlihat seperti menang. Otak mereka bereaksi dengan cara yang sama entah itu menang ataupun “nyaris menang”. Tapi, bagi penjudi nonpatologis nyaris menang itu terasa seperti kalah. Sebenarnya bagi orang-orang bukan penjudi sadar bahwa nyaris menang berarti sama saja dengan kalah.

Orang-orang yang mengalami kecanduan judi akan merasa gembira ketika mereka nyaris menang. Hal inilah yang menyebabkan kenapa orang yang kecanduan bermain berjudi akan lebih lama bertahan di tempat judi untuk bertaruh lagi. Nyaris menang ini akan memicu penjudi patologis untuk terus bermain lagi karena bagi mereka nyaris menang adalah kemenangan.

Sementara itu, bagi penjudi nonpatologis ketika melihat kondisi nyaris menang. Otak mereka mengambil kesimpulan bahwa “saya berhenti jika terus bermain uang saya akan habis”. Perbedaan neurologis jelas sangat mempergaruhi bagaimana reaksi para penjudi baik itu patologis maupun nonpatologis dalam mengolah informasi yang mereka terima.

Apakah perusahaan judi menyadari bahwa nyaris menang akan membuat para penjudi betah di tempat judi?

Perusahaan seperti kasino, pacuan kuda, lotere pasti menyadari hal tersebut sehingga banyak dari perusahaan tersebut memprogram mesin-mesin slot judi mereka yang memberikan hasil lebih banyak “nyaris menang”. Maka dari itu kenapa banyak orang rela menghabiskan uang mereka di tempat judi untuk terus bertaruh karena aktivitas saraf otak mereka diambil alih oleh saraf otak mereka yang mengambil informasi jika nyaris menang berarti menang.

Banyak para penjudi ingin segera berhenti bermain berjudi tapi aktivitas otak mereka tidak bisa menolak hal tersebut sehingga mereka mengalami mengidam dan terus-menerus terjebak di lingkaran setan tersebut.

Jadi, aktivitas bermain judi ini disebabkan oleh sebuah kebiasaan yang tertanam di saraf otak yaitu ganglia basal sehingga para penjudi tidak mampu berhenti untuk bermain judi karena saraf otak menganggap bahwa nyaris menang adalah menang.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi yang membaca. Jangan lupa ya bagikan artikle ini agar teman-teman kalian dapat mengetahuinya. Terima kasih sudah membaca artikel ini.

Sumber

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*